ALUMNI : Kuliah ke Luar Negeri Hanyalah Satu dari Jutaan Mimpi ku

10455206_10152547154938680_5599280113021769446_n

Saya terlahir pada 21 Maret 1986 dengan nama Putu Hangga Nan Prayoga. Nasib membawa saya
menuju gerbang ITS di jurusan Teknik Perkapalan pada tahun 2003 lewat jalur PMDK. Boleh
dibilang, Perkapalan bukanlah cita-cita dan pilihan utama saya sejak dahulu, namun saya punya rasa
ketertarikan yang kuat terhadap lekuk badan kapal dan alasan mengapa benda sebesar dan seberat
itu mampu mengambang dan berlayar sementara sebongkah batu saja dengan mudahnya tenggelam.
Hal yang semakin menarik minat saya adalah, di dalam jurusan Teknik Perkapalan pada saat itu,
terdapat bidang studi yang bagi saya sangat “sexy” yaitu transportasi laut.
Pertanyaan yang sampai saat ini masih membekas dalam benak saya adalah, “Mengapa Indonesia
sebagai negara maritim belum punya jurusan atau program studi yang khusus mempelajari tentang
karakteristik dan pola transportasi laut, terlebih ITS sudah sedari dahulu terkenal sebagai pusat
penghasil ahli-ahli dalam bidang perkapalan?”. Perkapalan dan transportasi laut memang tidak
pernah bisa lepas satu sama lain. Dimana kapal adalah moda transportasi utama dalam sektor ini.

Hal inilah yang membuat saya memutuskan untuk “menyeberang” ke bidang studi transportasi laut
sebagai angkatan “percobaan”pada semester III sebelum resmi terbentuk sebagai program studi.
Sebagai catatan saya lulus perkuliahan dengan Ijasah Bsc of Naval Architecture.
Ada dua hal penting yang saya dapat selama masa perkuliahan di ITS. Pertama, dari segi akademis,
saya merasa beruntung bisa mendapat bimbingan langsung dari ahli-ahli transportasi laut seperti Tri
Achmadi, Setyo Nugroho dan Firmanto Hadi, dimana masih lekat dalam ingatan saya bagaimana
“kawah chandradimuka” Lab.Transportasi laut mengajarkan saya begitu banyak ilmu dan
membentuk logika berpikir yang mana saya yakin tidak akan pernah saya dapatkan jika saya hanya
ada di kampus untuk kuliah dan kemudian pulang ke rumah/kos. Saya masih ingat bagaimana Pak
Tri memberikan saya uang Rp. 100.000,- dan “meminta” saya mengulang SMP hanya karena tidak
bisa menjelaskan arti “gradient” dalam sebuah kurva. Anyway, if you can’t be a winner, don’t be a
loser either. Dari situlah kira-kira pelecut semangat saya untuk mulai menenggelamkan diri
mempelajari bidang ini lebih dalam. Saya masih ingat betul, buku pertama yang saya “lahap habis”
adalah “Shipping”, karya Capt. R.P Suyono ditambah Managerial Economics karya William F.
Samuelson. Hal kedua yang sangat membekas adalah, pergaulan saya di lingkungan Himpunan
Mahasiswa Teknik Perkapalan. Kemandirian dan “networking” adalah hal utama yang harus
dimiliki dan pergaulan adalah kata kunci untuk memperoleh semua itu. Tidak akan ada yang
menyuapi kita dengan input baik selain dari orang-orang yang kita kenal baik.
Berawal dari rasa haus akan ilmu dan ingin tahu itulah saya mempunyai mimpi untuk suatu saat
bisa pergi ke negara-negara maju, “bermain-main” dengan kultur dan budaya baru sembari
mempelajari apa yang membuat mereka bisa berada di atas Indonesia. Jepang adalah salah satu
pilihan saya selain Inggris dan Jerman. Namun Jepang memiliki ketertarikan lebih karena posisi nya
yang adalah negara kasta kedua selepas perang dunia kedua dan mereka mampu bangkit dengan
begitu cepatnya menyusul ketertinggalan. Di dalam benak saya waktu itu terpikirkan “They
conquered us for 3,5 years, so I must return the favor in a different way ”.

Mimpi-mimpi itu sempat tertunda selepas lulus S1 Teknik Perkapalan karena tuntutan hidup untuk
mencari pekerjaan dan merasakan dunia sebenarnya sebagai orang dewasa. 3 tahun masa kerja saya
habiskan di Batam dan Jakarta sebelum saya memutuskan untuk keluar dari pekerjaan saya sebagai
Fleet Operation Manager di anak perusahaan PT. Samudera Indonesia yang bergerak di bidang
pengangkutan petikemas untuk mengejar kembali mimpi saya itu.
Jepang saya datangi pertama kali pada Oktober 2010 lewat program bernama JENESYS sebagai
research student selama setahun. Saya membuktikan bahwa saya mampu untuk bersaing dengan
orang “lokal” dan saya beranikan diri untuk mengambil ujian masuk/entrance exam program Master
di Kyushu University – Fukuoka sampai akhirnya saya lulus dan dihadiahi beasiswa MEXT
(Monbukagakusho) lewat rekomendasi Kyushu University kepada pemerintah Jepang. Masa studi
program master saya selesaikan dalam waktu setahun dan saya kembali diberikan kesempatan untuk
melanjutkan ke program doktor dengan beasiswa dari DIKTI. Bidang yang sangat ingin saya geluti
adalah aspek operasional dari sebuah cargo terminal (baik itu petikemas maupun bulk) dan interaksi
berbagai peralatan di dalamnya untuk mencapai level kinerja yang optimum. Salah satu turunan dari
tema besar ini adalah bagaimana cara menyelesaikan Container/Box Stacking Problem dimana
optimasi yang selama ini dianggap begitu “powerful” sudah terbukti gagal menyelesaikannya jika
problem itu diubah dari NP Hard ke NP Complete problem.
Tidak ada jurus rahasia lain untuk bisa berada pada posisi saya saat ini, selain konsistensi dan kerja
keras. Sebuah mimpi tidak akan pernah tercapai selama kita masih berada di titik yang sama saat
kita merancang mimpi itu. Perlu usaha yang dibarengi doa. Hal utama yang saya pertahankan
sampai saat ini adalah disiplin terhadap waktu dan konsistensi terhadap tujuan yang ingin saya
capai. Jika tidak ada rintangan maka proses menuju pencapaian sebuah mimpi tidak akan pernah
menarik. Di akhir mimpi inipun saya pasti akan punya mimpi-mimpi baru, dimana salah satunya
adalah kembali ke ITS, mengembalikan apa yang sudah saya terima dan membagikan hal-hal baru
kepada kolega di sekitar. Di titik ini saya sadari, proses saya belajar tidak akan berhenti sampai
disini.

If you don’t have a dream, how are you going to make a dream come true?. Saran yang dapat saya
berikan untuk teman-teman yang sudah punya mimpi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang
yang lebih tinggi adalah, jangan pernah menyerah untuk berusaha. Mungkin butuh waktu lama
sebelum kita bisa merealisasikannya, namun sekali anda menyerah dan mencoba untuk realistis
maka berakhirlah sudah usaha anda. Jika ada 100 Universitas yang menjadi target anda dan tiap
universitas memiliki 5 profesor yang anda kira bisa membimbing anda, maka melamarlah.
Penolakan adalah hal yang wajar, anda tidak sempurna, proposal riset anda mungkin masih mentah
dan dicap terlalu rendah. Tapi ketahuilah, Tidak semua orang yang mampu melanjutkan pendidikan
tinggi adalah orang yang pintar dan cerdas, banyak juga yang berbekal kemauan dan kerja keras.
Pasti ada orang yang mau membimbing anda dan membantu anda diluar sana selama anda punya
sikap dan benar-benar menunjukkan bahwa anda punya mental yang kuat untuk melewatinya.
Dan hal yang perlu diingat adalah, kuliah ke luar negeri hanyalah satu dari jutaan mimpi lain yang
bisa anda punya. There is a fine line between dreams and reality, it’s up to you to draw it.

Putu Hangga Nan Prayoga
1st Year Doctoral Student
Dept. of Urban, Maritime and Environmental Engineering
Functional Design of Marine Systems
Kyushu University
Email: putuhangga@kyudai.jp
Phone : +8180-3980-2103
LINE/SKYPE: hanggaprayoga/putuhangga


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *